Tinea capitis yang sering disebut ‘kurap kepala’ merupakan infeksi kulit kepala yang disebabkan aktivitas jamur jenis Dermatofita. Jamur ini sejenis mikroorganisme yang tumbuh subur dalam jaringan mati, di antaranya pada kuku, rambut, dan lapisan luar kulit. Dermatofita juga menyukai area hangat dan lembap, sehingga dapat berkembang biak pada kulit yang berkeringat.

Gejala tinea capitis juga beragam dan perlu diketahui untuk memudahkan deteksi awal pada penderita. Penyebab perkembangbiakan dan penularan jamur dermatofita ini juga harus diketahui agar dapat meminimalisasi pengaruh infeksinya, terlebih jangan sampai mengalami komplikasi. Inilah penjelasan lengkapnya.

Berbagai Gejala Tinea Capitis

Dokter bisa mencurigai keluhan dan tanda-tanda atau gejala yang dialami seorang pasien, termasuk pasien yang menderita tinea capitis. Berbagai gejala tinea capitis yang dialami dan yang terlihat pada area kulit kepala penderita memang bisa menjadi dugaan awal. Gejala yang paling umum adalah munculnya bercak gatal di kulit kepala.

Ditambah lagi, bagian rambut pada area yang terdapat bercak bisa putus, meninggalkan sisik, area berwarna merah, sampai munculnya bintik-bintik botak. Apabila tidak diobati, area ini dapat tumbuh dan menyebar secara bertahap. Gejala lain yang mungkin juga dialami oleh pengidap tinea capitis adalah rambut menjadi rapuh dan timbul rasa sakit di kulit kepala.

Di samping itu, gejala tinea capitis dalam kondisi yang lebih parah dapat berupa pembengkakan kelenjar getah bening pada area belakang leher. Penderitanya juga mengalami demam ringan. Jika didiamkan saja tidak diberikan penanganan, maka akan ditemukan keberadaan kerion (koreng) dengan pola kulit yang bersisik, melingkar, serta timbul favus atau kerak kulit yang berwarna kuning dengan rambut yang kusut.

Penyebab Seseorang Mengalami Tinea Capitis

Tinea capitis adalah yang merupakan infeksi dari aktivitas jamur dermatofit di jaringan kulit juga mempunyai beragam penyebab. Mengetahui gejalanya yang terbilang serius, Anda harus segera memahami apa saja penyebabnya. Infeksi memang lebih sering terjadi pada kulit berkeringat dan lembab, kemudian menyerang lapisan luar kulit kepala serta batang rambut. Jenis jamur dermatofit yang dapat menyerang rambut adalah Trichophyton (T) dan Microsporum (M).

Selain aktivitas jamur tersebut, munculnya gejala tinea capitis ini dapat dipicu oleh kebiasaan hidup yang kurang menjaga kebersihan dan kulit terlalu lembab. Di kalangan anak-anak, tinea capitis bisa menyebar dengan mudah. Anda juga bisa tertular hanya dengan menyentuh kulit orang yang sudah terinfeksi. Selain itu, risiko penularannya juga bisa terjadi jika berbagi sisir, topi, handuk, alas tidur, bantal, dan barang pribadi lainnya.

Selain berbagai penyebab tersebut, terdapat risiko lain dalam penularan gejala tinea capitis. Penyebaran jamur penyebab infeksi ini juga bisa menular dari hewan ke manusia. Contoh jamur yang menginfeksi adalah M. distortum (dari kucing), T. verrucosum (dari hewan ternak), T.  mentagrophytes var equinum (dari kuda), serta M. nanum (dari babi).

Komplikasi Tinea Capitis

Jika tidak segera disadari dan ditangani dengan baik, komplikasi tak terelakkan lagi. Kemungkinan terjadinya komplikasi dari infeksi tinea capitis ini dapat muncul ketika kondisi infeksinya semakin parah. Komplikasi yang dimaksud adalah berupa kerontokan rambut ataupun kebotakan dan munculnya bekas luka (jaringan parut) yang permanen. Kondisi ini terjadi saat tinea capitis pada kulit kepala berkembang menjadi kerion atau favus. Akibatnya, rambut jadi mudah lepas apabila ditarik dan dapat terjadi kebotakan permanen.

Untuk itu, menyadari kondisi tubuh sangat penting demi melindungi tubuh dari kemungkinan terburuk atas suatu penyakit. Dalam hal ini, gejala tinea capitis dan penyebabnya hingga cara penularannya sangat perlu diketahui agar terhindari dari komplikasinya. Pemeriksaan ke dokter khusus juga sangat diperlukan untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan segera setelah memang benar mengalami infeksi ini.